Brilio.net - Bicara soal kuliner Indonesia tidak akan pernah ada habisnya. Beraneka ragam makanan Tanah Air yang sudah terbukti jadi favorit banyak orang karena memiliki cita rasa yang khas. Setelah rendang menjadi kuliner Indonesia populer dan menjadi makanan terbaik di dunia, kini saatnya tempe yang akan dipromosikan agar bisa diterima oleh masyarakat dunia.

Tempe ternyata jauh dari kata ndeso. Bahkan, pecintanya rela memproduksi sendiri di negeri-negeri yang jauh. Cita rasanya yang sederhana membuat warga dunia jatuh cinta dan membuat penikmatnya semakin banyak. Pencinta tempe di luar negeri bahkan menjulukinya sebagai 'magic food', alias makanan ajaib!

"Tempe itu sudah diproduksi di mana mana. Di Australia, Asia Pasifik, bahkan Amerika dan Eropa. Nilai jualnya tinggi. Dan yang terpenting ini semakin mengangkat nama Indonesia yang merupakan asal tempe," ujar Ketua Tim Percepatan Wisata Belanja dan Kuliner Kementerian Pariwisata, Vita Datau Messakh, baru baru ini seperti dikutip brilio.net dari akun Facebook Kementerian Pariwisata, Kamis (29/11).

Salah satu yang paling berperan dalam membawa tempe menembus dunia adalah Rustono. Seorang pengusaha tempe sukses di Jepang. Namun, tempe produksinya tak hanya beredar di Jepang. Tempe yang dilabeli merek Rusto's Tempe itu juga sudah menembus pasar dunia. Seperti Meksiko, Korea, Brasil, Polandia, dan Hongaria.

Sekadar diketahui, olahan tempe buatan Rustono juga dipakai dalam menu penerbangan maskapai Garuda Indonesia rute Osaka-Denpasar. Harganya cukup fantastis, sekitar 350 yen atau Rp 40.000 per 250 gram.

"Rustono menjual tempe mentah. Ini menjadikan pelanggannya bebas untuk berkreasi dengan tempe. Para koki restoran dan hotel mengolah tempe menjadi lebih dari 60 menu tempe berbeda, seperti teriyaki tempe, sandwich tempe, tempe rumput laut, ataupun dicampur dengan salad. Para koki ini menyebut tempe sebagai magic food, makanan ajaib," terang Vita.

Kini bukan hanya Rustono yang memproduksi tempe di luar negeri. Ada juga Ana Larderet, perempuan cantik asal Prancis yang kepincut dengan nikmatnya tempe. Tempe buatannya juga sangat terkenal di Prancis. Pertalian Ana dengan tempe berawal ketika ia kuliah satu tahun di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selama menyelesaikan pendidikannya itu dirinya jatuh cinta dengan tempe dan masih menjadi makanan kesukaannya.

Selain Ana Larderet, di Australia juga ada warga lokal bernama Amita Buissink yang jatuh cinta kepada tempe. Ia bahkan memproklamirkan diri sebagai duta tempe. Tak hanya memproduksi tempe di Margaret River Tempeh, Australia Barat, tetapi Amita juga menularkan ilmu fermentasi tempe kepada anak-anak sekolah.

Ia pun sering diundang menjadi pembicara tempe bahkan sampai kembali ke Indonesia. Bukan itu saja, tujuh tahun memproduksi tempe, rasa tempe buatan Amita sama persis seperti tempe tradisional produksi perajin Indonesia. Kini pun ia membuat inovasi baru dengan keragaman tempe non kedelai.

"Harga jual tempe di Australia delapan kali lebih tinggi daripada di Indonesia. Sedangkan di Prancis, tempe buatan Ana dibanderol harga sekitar 4 euro-8 euro (1 euro setara Rp 15.000). Tetapi peminatnya tetap banyak. Ini menandakan tempe dapat menjadi duta kuliner Indonesia," pungkas Vita.

Secara terpisah Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, cara paling cepat, paling efektif, dan paling halus untuk mempopulerkan sesuatu ke pasar global adalah melalui diplomasi sosial-ekonomi. Dan salah satunya adalah melalui dunia kuliner.

Menurutnya, benchmark-nya adalah Thailand. Negeri Gajah Putih itu sukses menerapkan diplomasi untuk meningkatkan brand pariwisatanya. Sebab kuliner Thailand juga memiliki posisi kuat di kancah internasional. Hampir seluruh kota-kota besar dunia terdapat restoran Thailand. Selain itu, beberapa kuliner Thailand juga memiliki branding yang kuat di masyarakat dunia, contohnya Tom Yum.

"Dengan menjalankan diplomasi kuliner, kita melakukan penetrasi ke suatu negara tapi mereka tidak merasa. Saat ini, Kementerian Pariwisata telah menetapkan National Foods yang sudah populer di media masa dunia, yakni rendang, nasi goreng, sate serta soto, dan gado-gado. Tempe dapat menjadi salah satu national food yang mengangkat nama Indonesia, karena namanya sudah mendunia dan digemari warga negara asing," ujar Menpar.

Menteri asal Banyuwangi tersebut juga menambahkan tingginya minat warga asing terhadap tempe juga merupakan peluang untuk menarik wisatawan ke Indonesia. Salah satunya dengan membuka kelas untuk belajar memproduksi tempe. Misalnya di Rumah Tempe Indonesia, Bogor. Tempat tersebut kerap sekali kedatangan wisatawan mancanegara yang ingin menimba ilmu tentang kedelai dan cara membuat tempe.

"Tempe begitu digandrungi di tingkat dunia, ini menjadi peluang bagus mengangkat nasional brand sekaligus menarik wisatawan berkunjung ke Indonesia. Saya bangga sebagai bangsa tempe. Salam tempe! Salam Pesona Indonesia," tutup Arief Yahya.