Brilio.net - Jengkol memang punya rasa yang khas dan bikin nagih, tapi bau menyengatnya sering jadi masalah. Banyak orang jadi ragu mengolahnya di rumah karena aroma yang bisa menyebar ke seluruh dapur bahkan rumah. Padahal, ada trik sederhana yang bisa bantu mengurangi bahkan menghilangkan bau tersebut.
Dikutip BrilioFood dari akun Instagram @pawone_amala, salah satu cara yang cukup ampuh adalah merebus jengkol dengan tambahan teh celup dan bubuk kopi. Kedua bahan ini dikenal mampu menyerap dan menetralisir aroma tak sedap, termasuk bau tajam dari jengkol. Hasilnya, jengkol jadi lebih “ramah” aromanya tanpa mengurangi cita rasanya.
Dengan teknik yang tepat, kamu tetap bisa menikmati olahan jengkol favorit tanpa khawatir bau menyengat. Cara ini juga mudah dipraktikkan karena bahan-bahannya sederhana dan hampir selalu ada di dapur.
Langkah-langkah Merebus Jengkol Tanpa Bau
1. Cuci bersih jengkol dari kotoran yang menempel.
foto: Instagram/@pawone_amala
2. Masukkan jengkol ke dalam panci, lalu tambahkan air hingga seluruh jengkol terendam.
3. Tambahkan 2–3 kantong teh celup ke dalam panci.
4. Masukkan 1–2 sendok makan bubuk kopi (boleh kopi hitam tanpa gula).
foto: Instagram/@pawone_amala
5. Tambahkan 2–3 lembar daun salam dan 1 batang sereh yang sudah digeprek agar aromanya keluar.
foto: Instagram/@pawone_amala
6. Rebus jengkol dengan api sedang hingga empuk, biasanya sekitar 30–60 menit.
foto: Instagram/@pawone_amala
7. Setelah matang, buang air rebusan dan bilas jengkol dengan air bersih.
8. Jengkol siap diolah menjadi berbagai masakan tanpa bau menyengat.
Tips Supaya Hasil Lebih Maksimal
- Gunakan kopi hitam tanpa gula agar tidak meninggalkan rasa manis pada jengkol.
- Tambahkan daun salam atau daun jeruk saat merebus untuk aroma lebih segar.
- Jika bau masih terasa, ulangi proses perebusan dengan air baru.
- Rendam jengkol semalaman sebelum direbus untuk hasil lebih empuk dan bau berkurang.
- Gunakan panci tertutup agar aroma tidak menyebar saat proses perebusan.
FAQ
1. Apakah rasa jengkol jadi berubah karena teh dan kopi?
Tidak berubah secara signifikan. Teh celup dan kopi lebih berperan sebagai penyerap aroma menyengat dari jengkol, bukan sebagai pemberi rasa. Selama menggunakan kopi tanpa gula dan teh tanpa tambahan rasa, cita rasa asli jengkol tetap dominan. Justru hasil akhirnya terasa lebih “bersih” karena bau tajamnya berkurang.
2. Bisa pakai kopi sachet?
Bisa saja, tapi sebaiknya pilih kopi sachet yang murni tanpa gula dan krimer. Jika menggunakan kopi yang sudah mengandung gula, ada risiko rasa jengkol jadi sedikit manis atau aneh. Selain itu, krimer juga bisa meninggalkan lapisan pada air rebusan. Jadi, kopi hitam murni tetap jadi pilihan terbaik.
3. Berapa lama merebus jengkol yang ideal?
Waktu perebusan biasanya sekitar 30–60 menit, tergantung ukuran dan tingkat kekerasan jengkol. Jika jengkol masih muda, waktu bisa lebih singkat. Sebaliknya, jengkol tua biasanya butuh waktu lebih lama agar empuk. Kamu juga bisa mengeceknya dengan menusuk jengkol menggunakan garpu—kalau sudah mudah ditusuk, berarti sudah matang.
4. Apakah cara ini benar-benar menghilangkan bau?
Cara ini sangat efektif untuk mengurangi bau menyengat jengkol secara signifikan, meskipun mungkin tidak hilang 100%. Kombinasi teh, kopi, daun salam, dan sereh membantu menetralisir aroma tajam dan menggantinya dengan aroma yang lebih segar. Hasilnya jauh lebih nyaman, baik saat dimasak maupun saat disantap.
5. Apakah perlu direbus dua kali?
Tidak selalu, tapi sangat disarankan jika kamu ingin hasil yang benar-benar maksimal. Perebusan pertama berfungsi mengurangi bau utama, lalu perebusan kedua dengan air baru bisa membantu menghilangkan sisa aroma yang masih tertinggal. Cara ini biasanya dipakai kalau jengkol yang digunakan cukup tua atau aromanya sangat kuat.
Penulis: Anggita Cahya Rosdiana
Bio: Alumni Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Magelang yang memiliki pengalaman dalam penulisan artikel ilmiah yang telah dipublikasikan, serta aktif menulis artikel blog pribadi. Beberapa tulisan mengangkat topik kopi, seperti robusta dan arabika, sebagai bagian dari eksplorasi minat. Saat ini, tertarik mengembangkan penulisan pada topik kuliner dan lifestyle, serta memiliki ketertarikan pada bidang komunikasi digital.