Brilio.net - Siapa sih yang enggak suka makan steak? Makanan berbahan dasar daging yang dibakar dengan tingkat kematangan tertentu ini berasal dari negara Barat. Zaman dahulu, steak hanya bisa dinikmati kalangan bangsawan namun sekarang sudah bisa dinikmati oleh semua orang.

Perkembangan restoran steak di Indonesia saat ini juga pesat. Masyarakat Indonesia memiliki kriteria sendiri saat makan steak. Menurut Founder Steak Hotel by Holicow, Wynda Mardio sebanyak 70 persen orang Indonesia lebih suka menikmati steak dengan tingkat kematangan well done.

"Setiap customer ingin order steak, kita selalu edukasi. Sebenarnya steak paling enak itu dinikmati ditingkat kematangan medium, karena masih terasa juicy. Tapi orang kita lebih suka well done, itu karena sudah budaya di sini seperti itu," ujar Wynda dalam acara 9th anniversary Steak Hotel by Holycow.

Hal serupa disampaikan Pengamat Kuliner, Kevindra Soemantri yang mengatakan bahwa orang Indonesia takut makan steak yang masih ada darahnya. Padahal daging yang bagian dalamnya masih merah itu mengandung zat besi.

"Ya itu memang asimilasi budaya yah. Tapi kalau saya rekomendasikan kalau makan steak itu lebih baik di tingkat kematangan medium atau medium rare agar tekstur juicy dagingnya masih terasa. Kalau matang itu dagingnya jadi kering dan nggak berasa," jelasnya.

Kevindra pun menjelaskan daging steak yang berkualitas itu memiliki tekstur yang lembut serta tingkat marbling yang baik. Marbling sendiri merupakan kandungan lemak intraotot yang ada pada daging steak. Semakin banyak kadar marbling maka tekstrur daging semakin lembut dan juicy. "Kualitas marbling yang baik biasanya ada di daging jenis wagyu," pungasnya.