Brilio.net - Siapa sih yang tak kenal pecel lele? Makanan yang kerap jadi favorit mahasiswa karena harganya yang bersahabat tapi tetap mengenyangkan ini pasri pernah kamu cicipi.

Siapa pun pasti setuju jika warung makan pecel lele memiliki tempat makan yang khas. Pada umumnya, tempat makan warung makan pecel lele ini berupa sebuah tenda yang biasanya ditutupi spanduk persegi panjang berwarna neon terang dan tengahnya berwarna putih dengan lukisan gambar ayam, lele, dan tahu tempe. Lengkap dengan tulisan yang menunjukkan menu makanan yang ditawarkan pada warung makan tersebut.

Makanan yang selalu bisa ditemukan hampir di setiap sudut kota besar di Indonesia, beberapa waktu terakhir ini tengah ramai dibicarakan publik. Lantaran kisah unik seorang bapak yang santai menyantap pecel lele di tengah genangan bajir di Jakarta pada Senin (5/2) lalu. Kisah unik mencuri perhatian warganet setelah dibagikan melalui akun Twitter TMC Polda Metro Jaya.

Makanan yang dikenal akan sambal kacang khas dengan rasa manisnya ini berasal dari sebuah kabupaten di Jawa Timur, yaitu Lamongan. Pecel lele dari Lamongan ini sangat laris bak kacang rebus di musim hujan.

Di balik larisnya pecel lele Lamongan, ternyata terdapat ikatan persaudaraan di antara sesama penjual pecel lele.

Namun ikatan persaudaraan ini bukanlah dalam bentuk sebuah paguyuban atau asosiasi, melainkan lebih kepada sebuah silahturahmi yang terjalin lewat kegiatan arisan. Seperti yang diungkapkan Yulaeni, salah satu pemilik usaha warung makan pecel lele di Jogja yang berasal dari Lamongan kepada brilio.net ketika ditemui pada Kamis, (8/2).

"Oh kalau paguyuban atau perkumpulan gitu malah nggak ada kita mbak, adanya ya paling kayak arisan aja," jelas Yulaeni.

Menurut Yulaeni, kegiatan arisan ini biasanya diselenggarakan setahun sekali ketika mereka pulang kampung saat libur lebaran tiba. Kegiatan ini juga sekaligus menjadi ajang silahturahmi bagi sesama penjual pecel lele Lamongan. Biasanya kegiatan arisan ini di ikuti oleh sekitar 30 sampai 50 penjual pecel lele saja.

"Ya biasanya mbak kita itu arisannya bukan satu Lamongan tapi sama orang-orang yang deket rumah aja. Ya yang masih terjangkau mbak tempatnya, satu hari pp itu masih bisa gitu mbak. Per kecamatanlah biasanya," tutur wanita yang sejak tahun 1995 silam sudah berjualan pecel lele di Jakarta.  

Untuk asal muasal keberadaan pecel lele sendiri di akui Yulaeni, dirinya kurang mengetahui pasti. Menurut penjelasannya, pecel lele Lamongan ini pada awalnya hanyalah warung makan biasa seperti warung tegal (warteg).

"Dulu itu orang Lamongan ada yang ikut bantu jualan di Jakarta, di Pulo Gadung, tapi cuma buka tempat makan biasa kayak warung tegal itu lho mbak," jelas Yulaeni.

Berbeda dengan Yulaeni, Ari salah satu penjual pecel lele yang juga asli Lamongan, mengatakan bahwa di kampung halamannya tersebut tidak ada kegiatan arisan atau perkumpulan sesama penjual pecel lele. Ari yang membuka warung makan pecel lelenya di jalan Babarsari ini justru mengikuti kegiatan arisan sesama penjual pecel lele asal Lamongan di Yogyakarta.

"Wah kalau di tempat asal saya malah nggak ada mbak. Saya ikutnya yang di Jogja ini. Itupun biasanya masih sama keluarga dekat atau yang sedaerah aja ngekosnya di sini," terang pria berusia 28 tahun ini.

Menurut pengakuan Ari, bahkan di Jogja sendiri kegiatan arisan ini masih terbagi menjadi beberapa perkumpulan yang berbeda. Biasanya arisan ini terbagi menyesuaikan tingkatan kemampuan masing-masing penjual pecel lele untuk membayar iuran arisan. Kegiatan arisan yang juga menjadi ajang silahturahmi ini diadakan satu kali setiap bulannya.