Brilio.net - Yogyakarta memang nggak pernah kehabisan cara untuk menghibur para penghuninya. Selain menawarkan destinasi wisata ciamik, kota yang akrab disapa Joga ini juga selalu hadir dengan segudang acara tahunan yang nggak pernah sepi pengunjung. Salah satu acara tahunan di Jogja yang nggak boleh dilewatkan adalah Pasar Kangen.

Di 2019, Pasar Kangen sudah digelar sejak 12 Juli lalu dan akan mencapai puncak acara pada Sabtu (20/7) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Sesuai namanya, Pasar Kangen merupakan festival yang memanjakan para pengunjungnya dengan berbagai jenis kuliner dan barang antik yang bisa membangkitkan kenangan masa kecil para pengunjung.

Berbagai makanan tempo dulu yang sudah sulit ditemui seperti gethuk, clorot dan rambut nenek bisa kamu jumpai di Pasar Kangen Yogyakarta 2019. Dari puluhan stand makanan tempo dulu yang hadir, jajanan rambut nenek menjadi salah satu primadona di Pasar Kangen. Bagaimana tidak, jajanan tempo dulu yang satu ini hanya bisa ditemui di Pasar Kangen, lho.

foto: brilio.net/Arif B Setyo



Rambut nenek Siti Gimbal adalah satu-satunya stand makanan yang menjajakan makanan yang terbuat dari gula pasir ini. Didirikan pria bernama Adi sejak 2015 lalu, rambut nenek Siti Gimbal secara rutin bergabung dengan Pasar Kangen. Meskipun menjadi jajanan yang selalu diincar, namun Adi tak menjual rambut nenek di luar festival Pasar Kangen lho.

"Sebenarnya yang utama di Pasar Kangen Yogyakarta. Tiap tahun kan sekali, ya sudah itu aja. Jadi selama empat tahun itu ya cuma di sini saja," ungkap Adi, pemilik rambut nenek Siti Gimbal saat ditemui brilio.net, Rabu (18/7).

Kesibukan Adi setiap harinya adalah mengurus usaha buah, sehingga membuatnya tak sempat menjual rambut nenek selain di Pasar Kangen. Selain itu Adi juga mengungkapkan jika rambut nenek dagangannya tidak laku jika dijual di luar Pasar Kangen.

"Ini (rambut nenek) kalau dijual di luar Pasar Kangen nggak laku. Jadi di sini tuh, kayak ajang dari yang tua ke yang muda untuk story telling tentang makanan-makan kayak gini," tambah pria berusia 34 tahun tersebut.

foto: brilio.net/Arif B Setyo



Menjadi salah satu makanan yang bisa menggugah kenangan tempo dulu, nggak salah kalau pembeli rambut nenek Siti Gimbal banyak para orang tua dan generasi 90-an. Terutama masyarakat kota gudeg ini.

"Jadi bukan usia milenial. Karena usia milenial-milenial malah banyak yang nggak kenal," tambah Adi.

Dibuat dari gula pasir, pewarna makanan dan tanpa bahan pengawet, rambut nenek Siti Gimbal ini dijual dengan harga Rp 6.000 untuk contong dari kertas dan Rp 7.000 untuk kemasan plastik. Dijual dengan harga terjangkau, adalah salah satu alasan rambut nenek menjadi jajajan yang laris manis dan diburu pengunjung Pasar Kangen.

Nggak hanya merasakan sensasi nostalgia saat mencicipi rambut nenek, para pengunjung yang mampir ke stand Siti Gimbal juga dimanjakan dengan cara pembuatan rambut nenek yang dipertontonkan secara langsung. Dibantu dua orang yang bertugas membuat rambut nenek, dalam sehari Adi bisa menghabiskan 35-40 kg gula pasir.

foto: brilio.net/Syamsu Dhuha



Jumlah gula pasir tersebut bahkan bisa bertambah hingga 60 kg pada hari terakhir diselenggarakannya Pasar Kangen. Dalam sehari, Adi mengaku bisa menjual 1.000-1.500 contong plastik rambut nenek. Pendapatan yang diraih rambut nenek Siti Gimbal pun hingga jutaan rupiah.

"Kalau dirupiahin sehari rata-rata ya, Rp 7 juta. Sekitar itu lah. Itu dikaliin aja, 500 kali enam. Kalau sekitar 1.000 yang tinggal dikali," beber pria berkacamata ini.

Nama Siti Gimbal yang digunakan Adi sebagai brand rambut nenek miliknya ternyata menyimpan makna tersendiri lho. Nama tersebut merupakan nama panggilan masa kecil sang nenek. Usaha rambut nenek ini juga menjadi cara bagi Adi untuk memberikan sesuatu kepada sang nenek.

"Nenek saya tuh, bisa bikin minyak goreng dari kelapa, tapi sekarang kelapanya sudah nggak ada. Daripada saya ngasih duit, mending ngasih sesuatu tapi cari untung dulu baru ngasih emak (nenek) gitu," jelas Adi.

Meskipun Jogja memiliki segudang acara pameran makanan, namun rambut nenek Siti Gimbal belum berencana untuk mengikuti festival di luar gelaran Pasar Kangen. Bagi Adi, rambut nenek Siti Gimbal sudah menjadi ikon tersendiri bagi Pasar Kangen.

"Jadi rambut nenek cap Siti Gimbal ini lahirnya dari Pasar Kangen. Dia dibawa ke luar, nggak unik lagi. Jadi ikon," tutup Adi.

Nah, buat kamu yang belum ke Pasar Kangen, masih ada waktu nih, untuk mengobati rasa rindu dengan berbagai jajanan tempo dulu. Kamu juga bisa berburu berbagai barang antik seperti piringan hitam, perabotan rumah tangga jadul, perangko dan lain-lain. Nggak hanya itu, di Pasar Kangen juga digelar berbagai pertunjukkan seni yang memukau.