Brilio.net - Sebuah diskusi menarik mengenai kualitas rasa makanan di hotel baru-baru ini viral di platform Threads. Fenomena ini bermula dari pertanyaan pengguna akun nugroho_tan yang penasaran mengapa rasa menu sarapan (buffet breakfast) di hotel sering kali terasa biasa saja atau standar jika dibandingkan dengan menu makan siang (lunch) maupun makan malam (dinner).

"Pengen nanya sama anak perhotelan deh, kenapa kalau buffet breakfast itu rasanya selalu standar aja gitu, gak kaya lunch atau dinner buffet. Apa karena sudah include dengan biaya menginap kah," tulis akun tersebut. Ia juga menambahkan bahwa meski ada hotel bintang 5 yang memberikan kesan mendalam, secara umum rasa sarapan hotel terasa seragam.

foto: Tangkapan layar Threads/@nugroho_tan

Faktor Keamanan Perut dan Diversitas Tamu

Menanggapi rasa penasaran tersebut, seorang pengguna dengan akun yunhergh memberikan penjelasan dari sudut pandang profesional dapur hotel. Menurutnya, ada alasan mendasar mengapa rasa sarapan tidak dibuat terlalu tajam atau menonjol.

Poin pertama yang ditekankan adalah faktor keamanan bagi pencernaan tamu. Sarapan hotel harus bisa diterima oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak, lansia, hingga tamu asing yang mungkin memiliki toleransi rasa yang berbeda.

"Breakfast hotel itu makanannya harus aman buat semua tamu, anak-anak, lansia, tamu asing, yang lagi buru-buru, yang perut masih sensitif. Jadi rasa dibuat netral, gak terlalu bold," jelas yunhergh dalam unggahannya, seperti dikutip BrilioFood, Kamis (8/1).

foto: Tangkapan layar Threads/@yunhergh

Perbedaan Budget dan Orientasi Makan

Selain faktor kesehatan, masalah finansial juga memegang peranan. Karena sarapan biasanya sudah termasuk dalam paket harga kamar (include breakfast), pihak hotel harus melakukan manajemen biaya yang lebih ketat pada sesi ini.

"Breakfast udah masuk harga kamar, budget per porsi otomatis ditekan," tambah akun yunhergh.

Ia juga menyebutkan bahwa tujuan utama sarapan adalah untuk pengisian energi sebelum tamu memulai aktivitas, bukan sebagai perjalanan kuliner (culinary experience).

Ajang 'Show Off' Chef di Makan Siang dan Malam

Berbeda dengan sarapan, menu buffet untuk makan siang atau makan malam merupakan kesempatan bagi para koki untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Pada sesi ini, tamu biasanya datang memang dengan tujuan khusus untuk menikmati hidangan secara maksimal.

"Kalau lunch/dinner buffet, itu baru area show off chef. Tamu datang memang buat makan, jadi rasa, plating, dan variasi lebih 'niat'," ungkap yunhergh.

Tergantung Klasifikasi dan Manajemen Hotel

foto: Gemini AI

Meski alasan-alasan di atas dianggap masuk akal, netizen lain memberikan sudut pandang tambahan. Beberapa pengguna menyebutkan bahwa kualitas sarapan sebenarnya sangat bergantung pada kebijakan manajemen masing-masing hotel.

Tidak sedikit yang berpendapat bahwa semakin mewah sebuah hotel, biasanya standar rasa sarapannya pun akan tetap tinggi. Namun, banyak juga ditemukan kasus di mana hotel yang tidak terlalu mahal justru mampu menyajikan menu sarapan yang berkesan dan sangat enak, menunjukkan bahwa kreativitas dapur tetap bisa bermain di tengah keterbatasan budget.

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apakah jenis menu sarapan di hotel memengaruhi standar rasa yang disajikan?

Ya, menu sarapan umumnya didominasi oleh hidangan yang mudah diproduksi dalam jumlah besar secara cepat (seperti bubur, nasi goreng, atau telur), sehingga variasi bumbunya cenderung lebih umum agar bisa diterima lidah banyak orang secara masal.

2. Mengapa menu telur (egg station) menjadi favorit meski rasa buffet lainnya standar?

Egg station memberikan pengalaman made-to-order, di mana makanan dimasak langsung di depan tamu sesuai permintaan. Hal ini memberikan kesegaran (freshness) yang lebih tinggi dibandingkan makanan yang sudah berada di penghangat (chafing dish) dalam waktu lama.

3. Bagaimana cara mendapatkan pengalaman sarapan terbaik di hotel?

Disarankan untuk turun ke restoran lebih awal (saat baru dibuka) guna memastikan makanan masih dalam kondisi suhu dan tekstur terbaik sebelum mengalami penurunan kualitas akibat proses pemanasan terus-menerus.

4. Apakah hotel bintang 3 ke bawah memiliki aturan budget sarapan yang sama dengan bintang 5?

Prinsipnya sama, namun persentasenya berbeda. Hotel bintang bawah biasanya lebih fokus pada fungsionalitas (kenyang), sementara bintang 5 memiliki alokasi biaya lebih besar untuk mempertahankan reputasi rasa dan estetika.

5. Apa risiko bagi hotel jika menyajikan sarapan dengan rasa yang terlalu pedas atau kuat?

Risiko utamanya adalah komplain terkait kesehatan pencernaan tamu. Karena perut di pagi hari cenderung lebih sensitif, bumbu yang terlalu ekstrem berisiko membuat tamu merasa tidak nyaman selama perjalanan atau kegiatan mereka seharian.