Brilio.net - Moms...
Jadi seorang ibu itu ternyata berat, ya. Bukan cuma soal fisik yang terkuras karena kurang tidur, tapi tentang mental yang rasanya digerus perlahan setiap kali jam makan tiba. Rasanya saya sudah ada di titik paling lelah berhadapan dengan anak yang picky eater.
Setiap hari, rasa cemas itu selalu bersarang di dada. Hari ini si kecil mau makan apa? Apakah berat badannya bakal turun lagi bulan ini? Anak orang lain bisa makan lahap tanpa drama, sementara si kecil jangankan mengunyah, melihat piringnya saja sudah tantrum sendiri.
Apa Itu Picky Eater pada Anak?
Jujur saja, menghadapi anak yang mendadak aksi 'Gerak Tutup Mulut' (GTM), ngamuk saat disuapi, atau telaten memisahkan sayur di piringnya itu memang menguras emosi. Kondisi ini biasa disebut picky eater, yaitu momen ketika si kecil mendadak sangat pemilih soal makanan dan enggan mencicipi rasa baru. Perilaku ini sebenarnya tak hanya dialami anak-anak, tapi juga dijumpai pada orang dewasa.
Foto: Shutterstock.com
Sebenarnya, ini adalah fase perkembangan yang sangat wajar, terutama saat anak menginjak usia 2 hingga 5 tahun, bahkan beberapa sudah mulai terlihat sejak masa MPASI. Walau tergolong fase alami yang nantinya memudar seiring bertambahnya usia, hal ini harus diperhatikan. Momen pilih-pilih makanan ini berkaitan erat dengan pemenuhan gizi, risiko berat badan (kurang maupun berlebih), dan tumbuh kembang optimalnya.
Cara Mengatasi Anak Picky Eater
Menghadapi anak yang susah makan memang butuh stok kesabaran ekstra tanpa perlu terbawa emosi. Kuncinya, usahakan suasana makan tetap tenang. Moms bisa mulai dengan menyajikan porsi kecil terlebih dahulu daripada langsung memenuhi piring, karena piring yang terlalu penuh sering membuat anak merasa kewalahan duluan. Selain itu, kenalkan makanan baru secara bertahap dan padukan dengan rasa yang sudah familier baginya.
Salah satu masakan khas Indonesia yang populer bagi anak-anak adalah ayam kecap. Rasanya pasti familier bagi anak-anak. Paduan kecap manis, ayam, bawang, dan rempah-rempah siap membuat si kecil jadi lahap lagi. Terlebih, resep ayam kecap juga mudah sekali dibuat di dapur rumah. Berbekal rasa yang lezat, si kecil pasti lahap makannya.
Foto: Shutterstock.com
Satu prinsip penting yang tidak boleh dilupakan. Jangan pernah memaksa anak menghabiskan makanan. Paksaan hanya akan menciptakan rasa takut dan trauma pada proses makan. Agar anak lebih berselera, pastikan masakan terasa lezat. Makanan hambar sering membuat anak malas makan dan bisa mengganggu potensi prestasinya. Moms bisa memanfaatkan rasa umami dari MSG untuk membuat masakan lebih gurih. Secara medis, rasa lezat dari MSG membantu merangsang produksi cairan pencernaan di lambung, sebuah kunci utama agar nutrisi makanan dapat diserap tubuh secara optimal.
Tips Membuat Anak Mau Mencoba Makanan Baru
Biar si kecil mau mencoba menu baru tanpa drama, Moms bisa memadukan bahan makanan baru tersebut dengan makanan favoritnya. Mengkreasikan variasi warna, bentuk, dan tekstur di atas piring juga ampuh membuat sajian terlihat lebih memikat. Kunci utamanya terletak pada konsistensi, yaitu mengenalkan makanan baru secara berulang tanpa ada unsur paksaan.
Foto: Shutterstock.com
Misalnya, cobain resep soto ayam yang jadi andalan masakan keluarga di rumah. Memasaknya juga nggak ribet tapi tetap kaya akan rasa. Sensasi hangatnya pasti menenangkan si kecil yang sedang tantrum. Soto ayam juga kaya akan umami alami. Jangan lupa koreksi rasa agar masakan tidak hambar, ya Moms!
Soal rasa, penggunaan MSG secukupnya bisa dimanfaatkan untuk menambah rasa gurih secara aman. Chef Martin Praja menyampaikan bahwa MSG sebenarnya tidak mengubah rasa dasar masakan, melainkan justru memperkuatnya. Sementara itu, dr. Sonia Wibisono menjelaskan bahwa MSG bantu mengurangi konsumsi garam.
Fakta medis menunjukkan bahwa MSG mengandung natrium yang jauh lebih sedikit dibandingkan garam dapur biasa, sehingga mengganti sebagian garam dengan MSG menjadi langkah bijak untuk menekan asupan natrium tanpa mengurangi kelezatan.
Orang tua tidak perlu khawatir, ada rekomendasi micin terbaik seperti Sasa MSG terbuat dari bahan tetes tebu alami melalui proses fermentasi. Proses ini serupa dengan pembuatan kecap atau yoghurt, yang menghasilkan protein glutamat alami berbentuk kristal putih tidak berbau. Keamanannya pun terjamin melalui sertifikasi HALAL MUI, MD-BPOM, FDA-USA, Kosher, hingga izin Komunitas Eropa yang menyatakan produk ini aman dikonsumsi secukupnya seperti lada, garam, atau gula.
Dengan memadukan MSG bersama bahan bergizi seperti protein, sayuran, dan karbohidrat serta memantau asupan natrium harian, menyajikan hidangan sehat yang dilahap habis oleh si kecil jadi jauh lebih mudah.