Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral

Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral
fat choy | foto ilustrasi: Instagram/@vindylee

Brilio.net - Fenomena hair croissant atau croissant "berambut" asal Thailand masih menjadi perbincangan di media sosial. Pastry yang dibuat oleh Sai Wan Bake House itu menarik perhatian karena menggunakan topping berupa serat hitam yang sekilas menyerupai rambut manusia. Penampilannya bahkan dinilai mirip rambut kemaluan sehingga memicu beragam tanggapan dari warganet di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kreasi tersebut terinspirasi dari tren hairy cake yang lebih dulu populer di Thailand. Tak sedikit kreator konten kuliner yang ikut mengulasnya, meski sebagian mendapat kritik karena menggunakan istilah yang dianggap vulgar saat menjelaskan tampilan makanan tersebut.

Di balik kontroversinya, topping hitam yang digunakan ternyata bukan rambut, melainkan fat choy atau black moss. Bahan pangan ini telah lama dikenal dalam kuliner Tionghoa dan memiliki makna budaya yang kuat. Informasi mengenai fat choy juga dijelaskan oleh Halal Analyst Aisha Maharani melalui akun Instagram pribadinya. Berikut penjelasannya dikutip brilio.net dari Instagram @aishamaharani, Kamis (16/7/2026).

1. Fat Choy Bukan Rambut ataupun Rumput Laut

Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral

hair croissant
© 2026 Instagram/@aishamaharani

Meski bentuknya menyerupai helaian rambut hitam, fat choy bukan rambut maupun rumput laut. Menurut penjelasan Aisha Maharani, fat choy merupakan koloni sianobakteri (cyanobacteria) dengan nama ilmiah Nostoc flagelliforme.

Organisme ini tumbuh secara alami di kawasan padang rumput dan gurun, terutama di wilayah China bagian utara serta Mongolia. Karena bentuknya yang memanjang dan berwarna hitam, fat choy juga dikenal sebagai hair vegetable.

Setelah dipanen dan dikeringkan, teksturnya menjadi ringan sehingga mudah digunakan sebagai pelengkap berbagai hidangan tradisional.

2. Memiliki Makna Keberuntungan dalam Budaya Tionghoa

Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral

hair croissant
© 2026 Instagram/@aishamaharani

Fat choy bukan sekadar bahan makanan. Dalam budaya Tionghoa, bahan ini memiliki makna simbolis karena pelafalannya hampir sama dengan frasa Mandarin 發財 (fa cai) yang berarti memperoleh rezeki atau kemakmuran.

Sementara nama fat choy sendiri ditulis menggunakan karakter 髮菜, tetapi pengucapannya sangat mirip dengan 發財. Kesamaan bunyi tersebut membuat fat choy identik dengan doa untuk mendapatkan keberuntungan dan rezeki.

Karena alasan itu, fat choy kerap disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek maupun jamuan keluarga sebagai simbol harapan akan kemakmuran di tahun yang baru.

3. Termasuk Bahan Pangan Bernilai Tinggi

Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral

hair croissant
© 2026 Instagram/@aishamaharani

Di balik tampilannya yang sederhana, fat choy tergolong bahan pangan premium. Harga jualnya relatif tinggi karena pertumbuhannya sangat lambat dan proses pemanenannya tidak mudah.

Untuk kualitas yang baik, fat choy seberat sekitar 50 gram dapat dijual mulai kisaran Rp250 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara kemasan 100 gram bisa mencapai Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung kualitasnya.

Nilai jual tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan yang terbatas serta proses pengumpulan yang harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak habitat alaminya.

4. Mengandung Berbagai Nutrisi

Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral

hair croissant
© 2026 Instagram/@aishamaharani

Meski biasanya hanya digunakan dalam jumlah sedikit, fat choy tetap mengandung sejumlah zat gizi. Dalam kondisi kering, bahan ini mengandung serat pangan, protein, zat besi, kalsium, magnesium, dan kalium.

Kandungan serat berperan dalam mendukung kesehatan saluran pencernaan, sedangkan mineral seperti zat besi dan kalsium dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi biologis.

Namun, karena penggunaannya umumnya hanya sebagai pelengkap hidangan, kontribusi nutrisinya terhadap kebutuhan harian tidak terlalu besar.

Tabel Kandungan Nutrisi Fat Choy

Kandungan Manfaat Umum
🌾 Serat Mendukung kesehatan pencernaan dan membantu menjaga fungsi usus tetap optimal.
🥚 Protein Membantu pembentukan serta perbaikan jaringan tubuh.
🩸 Zat Besi Berperan dalam pembentukan sel darah merah.
🦴 Kalsium Mendukung kesehatan tulang dan gigi.
⚡ Magnesium Membantu menjaga fungsi otot dan saraf agar bekerja dengan baik.
💧 Kalium Membantu menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh.

 

5. Sudah Lama Digunakan dalam Berbagai Masakan

Bukan rambut atau rumput laut, ini 5 fakta fat choy yang jadi sorotan usai hair croissant viral

hair croissant
© 2026 Instagram/@aishamaharani

Jauh sebelum viral karena hair croissant, fat choy telah lama digunakan dalam berbagai hidangan tradisional Tionghoa. Bahan ini sering dimasukkan ke dalam sup, tumisan jamur, hidangan vegetarian khas Buddha, hingga berbagai makanan perayaan.

Sebelum dimasak, fat choy biasanya direndam terlebih dahulu agar teksturnya kembali lembut. Setelah itu, bahan ini mudah menyerap kuah maupun bumbu sehingga cocok dipadukan dengan berbagai masakan.

Belakangan, fat choy menjadi perhatian publik karena digunakan sebagai topping hair croissant yang tampilannya menyerupai rambut kemaluan. Padahal, dalam tradisi kuliner Tionghoa, bahan pangan ini dikenal sebagai simbol keberuntungan dan telah digunakan selama bertahun-tahun.

FAQ

1. Apakah fat choy aman dikonsumsi?

Ya. Fat choy merupakan bahan pangan yang telah lama digunakan dalam berbagai hidangan tradisional Tionghoa.

2. Kenapa fat choy terlihat seperti rambut?

Bentuk alaminya berupa serat hitam panjang sehingga sekilas menyerupai helaian rambut.

3. Apakah fat choy hanya digunakan saat Tahun Baru Imlek?

Tidak. Meski identik dengan hidangan Imlek, fat choy juga digunakan dalam berbagai jamuan keluarga dan masakan tradisional lainnya.

4. Mengapa harga fat choy cukup mahal?

Karena pertumbuhannya lambat, habitat alaminya terbatas, dan proses pemanenannya memerlukan kehati-hatian.

5. Apakah hair croissant merupakan makanan tradisional Tionghoa?

Bukan. Hair croissant merupakan kreasi pastry modern yang memanfaatkan fat choy sebagai topping, sedangkan fat choy sendiri sudah lama digunakan dalam masakan tradisional.

 

(brl/tin)

Video

Selengkapnya
  • Jalan Makan Shiki, resto sukiyaki bergaya kansai daging disajikan dengan permen kapas

    Jalan Makan Shiki, resto sukiyaki bergaya kansai daging disajikan dengan permen kapas

  • Jalan Makan Kari Lam, jualan sejak 1973 membawa rasa nostalgia

    Jalan Makan Kari Lam, jualan sejak 1973 membawa rasa nostalgia

  • Jalan Makan Sroto Eling-Eling, gurihnya kuah dan melimpahnya daging kuliner Banyumas

    Jalan Makan Sroto Eling-Eling, gurihnya kuah dan melimpahnya daging kuliner Banyumas