Menurunnya masa kejayaan akibat produk asing

foto: brilio.net/Devi Aristya Putri

Pada 1970 hingga 1980 menjadi masa kejayaan dari perdagangan Limun Oriental ini. Bahkan pada tahun itu, minuman legendaris ini sempat dipasarkan sampai keluar kota, tepatnya Jakarta, Surabaya, dan Cirebon. Namun hal tersebut tidak berangsur lama.

Pada 1990-an produk asing seperti Fanta, Coca-cola, dan lainnya mulai masuk ke pasar Indonesia. Tentunya hal tersebut membawa dampak buruk bagi penjualan Limun Oriental.

"Itu mereka secara teknologi itu lebih maju jadi cost produksinya lebih murah, produknya lebih bersaing. Akhirnya produk lokal kita semakin tergusur," jelasnya.

foto: Instagram/@limunoriental

Walau usaha ini sempat mengalami pasang surut, Limun Oriental ini tetap ada dan eksis di tengah gempuran coffee shop. Tentunya hal tersebut mereka pertahankan dengan berbagai cara. Mulai dari rasa yang tidak pernah berubah dan melakukan inovasi dari cara pemasaran.

Pada 2017 Bernardi melakukan sebuah pengamatan kecil yang bisa meningkatkan penjualannya kembali. Dengan cara membuka kedai di depan rumahnya dan mulai memasarkan limun melalui media sosial. Inovasi ini pun disambut dengan baik oleh masyarakat Pekalongan yang pada saat itu sudah mulai ngetren tempat nongkrong dengan suasana yang unik.

"Saya bikin cafe, saya tawar-tawarin ke cafe dan warmindo. Akhirnya bisa jalan lagi sampai sekarang. Sekarang di Jakarta ada beberapa tempat yang ambil. Kota lain ada Bandung, Jogja, dan Solo," imbuhnya.